Jumat, 22 Mei 2009

Rumput Laut/ Seaweed


Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah Euchema cottonii dan Gracelaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.




Industri Rumput Laut

Penjemuran Rumput Laut

Indonesia mempunyai potensi sumberdaya kelautan yang sangat besar, salah satunya adalah rumput laut. Oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan potensi ini dijadikan salah satu komoditas unggulan Indonesia karena dari segi bahan baku Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah dan dari segi pengguna mengalami peningkatan drastis terutama di luar negeri.

Olahan rumput laut dimanfaatkan untuk kebutuhan industri makanan, farmasi, kosmetika dll. Kebutuhan dunia akan produk olahan rumput laut yang terus meningkat menjadikan bisnis ini sangat prospektif. Kami menawarkan jasa Pembangunan Industri Pengolahan Rumput Laut secara komprehensif mulai konstruksi pabrik, mesin proses hingga instalasi pengolahan limbah, dengan kualitas produk hasil sesuai standar export.

- Produk yang dihasilkan dalam bentuk Semi Refine Caragenan atau Caragenan
- Bahan Baku : Rumput Laut
- Kapasitas Bahan Baku : mulai 1 ton/hari sd 20 ton/hari, atau sesuai permintaan





Rumput Laut, Lezat dan Menyehatkan PDF Print
16-01-2008
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penampilan telah merubah pola makan masyarakat. Berbagai bahan pangan yang diyakini dapat membuat badan sehat, telah menjadi peluang bisnis tentang suplemen kesehatan.

Kertas merupakan salah satu kebutuhan pokok dari kehidupan manusia. Bisa dibayangkan apa jadinya dunia tanpa kertas, sekolah terhenti, kantor macet dan banyak industri terhambat karena mereka menggunakan kertas sebagai salah satu bagian packing. Berapa banyak buku yang tak bisa tercetak karena tidak adanya kertas? Industri penerbitan akan berhenti total.

Kebutuhan dunia akan kertas ternyata memiliki sisi lain karena produksi kertas berdampak buruk terhadap Hutan. Bagaimana bisa? Kertas membutuhkan hutan sebagai sumber bahan baku utamanya yaitu kayu. Bisa dibayangkan berapa banyak kayu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kertas di negeri ini saja. Sebuah fakta menunjukkan bahwa produksi kertas yang mendukung proses kelahiran manusia-manusia pandai ternyata membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dari hutan. Dari data produksi tahun 1999, 1 ton pulp memerlukan 4,5 m3 kayu bulat, dan pada tahun tersebut dibutuhkakan 24 juta m3 kayu bulat. Untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan sekitar 300.000 ha hutan alam. Bisa dibayangkan 9 tahun kemudian yaitu di tahun ini (2008) berapa ha hutan yang harus ditebang demi menghasilkan lembar demi lembar kertas.

Protes keras atas penebangan hutan sudah lama dilontarkan oleh para pecinta lingkungan hidup. Beberapa produk Indonesia pun mendapat sentimen negatif oleh pasar Eropa dan Amerika karena dianggap andil dalam perusakan hutan. Bisa dibayangkan beberapa tahun ke depan, gencarnya kampanye lingkungan hidup pun akan semakin gencar. Buku yang membuat orang mengerti akan dunia dan banyak hal, justru menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian hutan.

Penelitian yang terus menerus telah menemukan solusinya. Kertas tidak lagi bergantung kepada alam dan hutan, kertas dapat dibuat dari bahan lain yang sangat banyak diperoleh di Indonesia dan sangat mudah dibudidayakan. Alga Merah, salah satu jenis rumput laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia.

Alga Merah, yaitu Gelidium amansii dan Pterocladia lucia merupakan bahan baku alternatif yang dapat digunakan untuk menyelamatkan hutan. Alga ini banyak tumbuh di perairan Indonesia. Kertas yang dihasilkannya putih bersih dan halus seperti kualitas kertas mahal yang digunakan oleh majalah Time.

Kelebihan kertas dari alga merah adalah proses produksinya yang tidak banyak mengandung zat kimia. Zat kimia hanya digunakan untuk memutihkan kertas yaitu chlorin. Di Indonesia Algae merah ini ditemukan pertama kali di Bali, dan saat ini sedang dikembangkan secara intensif di Lombok. Alga merah pun dapat berproduksi dengan cepat yaitu sekitar 7 - 13 % bahkan dapat bertumbuh sampai 20 % per harinya. Bandingkan dengan kayu yang membutuhkan puluhan tahun.

Budidaya Alga Merah dapat dilakukan oleh siapa saja karena mudah dikembangkan. Alga ini menyukai perairan tenang. Perairan semacam ini banyak terdapat di kawasan pantai Indonesia. Suatu potensi yang menjanjikan bagi Indonesia. Sayangnya produksi kertas dengan alga ini baru dilakukan secara serius oleh Korea, Indonesia hingga saat ini masih berkutat sebagai negara penghasil bahan produksi.

Suatu kesempatan baru untuk para Nelayan dan masyarakat pantai. Suatu peluang bagi hutan agar dapat tumbuh kembali. Apakah negara ini hanya akan tetap menjadi penonton saja?

MARI SELAMATKAN HUTAN DEMI BUMI INI.





Sulsel Produksi Rumput Laut Terbesar Dunia

Media Track | Thu, Mar 12, 2009 at 12:12 | Makassar, Ujungpandang Ekspres

Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan saat ini Sulsel sedang berkonsentrasi memperbaiki produksi sejumlah komoditas seperti, kakao, jagung, dan rumput laut.

Bahkan khusus komoditi rumput laut Sulsel sedang menuju sebagai penghasil rumput laut terbesar dunia. Meskipun kondisi krisis yang terjadi saat ini, dikatakan, ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap komoditi daerah ini.

Pertumbuhan ekonomi daerah ini, berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir 2008 mencapai 7,14 %. “Hal ini tentu menjadi hal yang luar biasa, bahkan pada 2008 lalu kita pernah mencapai pertumbuhan 8,48%,” kata Syahrul, didampingi Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel HA Muallim, di kantor Gubernur, Rabu (11/3) kemarin.

Selain itu ditinjau dari sektor pertanian Sulsel bahkan mencapai overstock beras sampai 2 juta ton yang meliputi luas lahan sekitar 800 ribu hektar, overstock jagung 1,5 juta ton dengan luas lahan 400 ribu hektar, dan 3 juta ekor sapi.

Syahrul mengaku telah meminta kepada para bupati untuk turun langsung mengecek komoditas di daerahnya seperti udang, bandeng, agar produksinya dapat ditingkatkan secara bertahap. “Jika pangan kita bagus, maka tentu gizi yang dinikmati masyarakat juga akan baik, sehingga akhirnya akan menghasilkan kualitas SDM yang baik pula,” kata Syahrul, saat bertemu dengan para pemimpin redaksi media cetak dan elektronik daerah ini, di ruang kerjanya, kemarin.

Dia berharap Sulsel menjadi percontohan provinsi lain, bukan hanya di sektor pertanian tetapi juga untuk pendidikan dan kesehatan. Program pendidikan dan kesehatan gratis yang telah berjalan sekitar enam bulan ini, juga mulai memasyarakat. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, H Patabai Pabokori, Pemprov Sulsel terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kedua layanan ini. Hampir di setiap kabupaten kota telah dilakukan sosialisasi layanan pendidikan gratis.

Disebutkan anggaran untuk pendidikan gratis yang mencapai Rp2,5 triliun dan kesehatan gratis sebesar Rp2,3 triliun. “Kita ini bekerja benar-benar demi rakyat, tanpa kepentingan tertentu,” katanya.
Dinas pendidikan dan Dinas Kesehatan Sulsel akan terus didorong untuk memaksimalkan kedua layanan ini. Belum lagi pemberian beasiswa kepada sekitar 1.000 orang, diantaranya 100 dokter. “Mari kita perbaiki republik ini dari Sulsel, kita harus menjadi daerah percontohan,” kata Syahrul.

Gubernur Syahrul yang juga didampingi Asisten II Pemprov H Yushar Huduri, Dinas Pendidikan, dan Kepala Dinas Kesehatan mengaku ada optimisme di tahun 2009 untuk menjadi lebih baik lagi. “Apalagi sampai sekarang di Sulsel belum ada kita dengar perusahaan melakukan PHK gara-gara krisis,” kata Syahrul.

Hal ini, bisa terjadi menurut Syahrul, karena memang ada komitmen yang kuat antara pemerintah kabupaten-kota, dalam hal ini bupati dan walikota.”Saya berterimakasih kepada bupati,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga mengungkapkan kepada seluruh SKPD se-Sulsel agar tender proyek pembangunan sudah rampung Maret-April 2009 ini. “Jangan ada lagi yang belum selesai tender di atas bulan Agustus,” tegasnya.

Hal ini dilakukan agar uang dan ekonomi pada masyarakat dapat berputar dengan cepat. Pihak perbankan juga diminta untuk segera mencairkan pendanaannya. Khusus untuk politik, Syahrul menegaskan para elit boleh bersaing tetapi jangan sampai merugikan masyarakat.(upeks)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar