Jumat, 22 Mei 2009

Rumput Laut/ Seaweed


Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah Euchema cottonii dan Gracelaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.




Industri Rumput Laut

Penjemuran Rumput Laut

Indonesia mempunyai potensi sumberdaya kelautan yang sangat besar, salah satunya adalah rumput laut. Oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan potensi ini dijadikan salah satu komoditas unggulan Indonesia karena dari segi bahan baku Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah dan dari segi pengguna mengalami peningkatan drastis terutama di luar negeri.

Olahan rumput laut dimanfaatkan untuk kebutuhan industri makanan, farmasi, kosmetika dll. Kebutuhan dunia akan produk olahan rumput laut yang terus meningkat menjadikan bisnis ini sangat prospektif. Kami menawarkan jasa Pembangunan Industri Pengolahan Rumput Laut secara komprehensif mulai konstruksi pabrik, mesin proses hingga instalasi pengolahan limbah, dengan kualitas produk hasil sesuai standar export.

- Produk yang dihasilkan dalam bentuk Semi Refine Caragenan atau Caragenan
- Bahan Baku : Rumput Laut
- Kapasitas Bahan Baku : mulai 1 ton/hari sd 20 ton/hari, atau sesuai permintaan





Rumput Laut, Lezat dan Menyehatkan PDF Print
16-01-2008
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penampilan telah merubah pola makan masyarakat. Berbagai bahan pangan yang diyakini dapat membuat badan sehat, telah menjadi peluang bisnis tentang suplemen kesehatan.

Kertas merupakan salah satu kebutuhan pokok dari kehidupan manusia. Bisa dibayangkan apa jadinya dunia tanpa kertas, sekolah terhenti, kantor macet dan banyak industri terhambat karena mereka menggunakan kertas sebagai salah satu bagian packing. Berapa banyak buku yang tak bisa tercetak karena tidak adanya kertas? Industri penerbitan akan berhenti total.

Kebutuhan dunia akan kertas ternyata memiliki sisi lain karena produksi kertas berdampak buruk terhadap Hutan. Bagaimana bisa? Kertas membutuhkan hutan sebagai sumber bahan baku utamanya yaitu kayu. Bisa dibayangkan berapa banyak kayu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kertas di negeri ini saja. Sebuah fakta menunjukkan bahwa produksi kertas yang mendukung proses kelahiran manusia-manusia pandai ternyata membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dari hutan. Dari data produksi tahun 1999, 1 ton pulp memerlukan 4,5 m3 kayu bulat, dan pada tahun tersebut dibutuhkakan 24 juta m3 kayu bulat. Untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan sekitar 300.000 ha hutan alam. Bisa dibayangkan 9 tahun kemudian yaitu di tahun ini (2008) berapa ha hutan yang harus ditebang demi menghasilkan lembar demi lembar kertas.

Protes keras atas penebangan hutan sudah lama dilontarkan oleh para pecinta lingkungan hidup. Beberapa produk Indonesia pun mendapat sentimen negatif oleh pasar Eropa dan Amerika karena dianggap andil dalam perusakan hutan. Bisa dibayangkan beberapa tahun ke depan, gencarnya kampanye lingkungan hidup pun akan semakin gencar. Buku yang membuat orang mengerti akan dunia dan banyak hal, justru menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian hutan.

Penelitian yang terus menerus telah menemukan solusinya. Kertas tidak lagi bergantung kepada alam dan hutan, kertas dapat dibuat dari bahan lain yang sangat banyak diperoleh di Indonesia dan sangat mudah dibudidayakan. Alga Merah, salah satu jenis rumput laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia.

Alga Merah, yaitu Gelidium amansii dan Pterocladia lucia merupakan bahan baku alternatif yang dapat digunakan untuk menyelamatkan hutan. Alga ini banyak tumbuh di perairan Indonesia. Kertas yang dihasilkannya putih bersih dan halus seperti kualitas kertas mahal yang digunakan oleh majalah Time.

Kelebihan kertas dari alga merah adalah proses produksinya yang tidak banyak mengandung zat kimia. Zat kimia hanya digunakan untuk memutihkan kertas yaitu chlorin. Di Indonesia Algae merah ini ditemukan pertama kali di Bali, dan saat ini sedang dikembangkan secara intensif di Lombok. Alga merah pun dapat berproduksi dengan cepat yaitu sekitar 7 - 13 % bahkan dapat bertumbuh sampai 20 % per harinya. Bandingkan dengan kayu yang membutuhkan puluhan tahun.

Budidaya Alga Merah dapat dilakukan oleh siapa saja karena mudah dikembangkan. Alga ini menyukai perairan tenang. Perairan semacam ini banyak terdapat di kawasan pantai Indonesia. Suatu potensi yang menjanjikan bagi Indonesia. Sayangnya produksi kertas dengan alga ini baru dilakukan secara serius oleh Korea, Indonesia hingga saat ini masih berkutat sebagai negara penghasil bahan produksi.

Suatu kesempatan baru untuk para Nelayan dan masyarakat pantai. Suatu peluang bagi hutan agar dapat tumbuh kembali. Apakah negara ini hanya akan tetap menjadi penonton saja?

MARI SELAMATKAN HUTAN DEMI BUMI INI.





Sulsel Produksi Rumput Laut Terbesar Dunia

Media Track | Thu, Mar 12, 2009 at 12:12 | Makassar, Ujungpandang Ekspres

Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan saat ini Sulsel sedang berkonsentrasi memperbaiki produksi sejumlah komoditas seperti, kakao, jagung, dan rumput laut.

Bahkan khusus komoditi rumput laut Sulsel sedang menuju sebagai penghasil rumput laut terbesar dunia. Meskipun kondisi krisis yang terjadi saat ini, dikatakan, ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap komoditi daerah ini.

Pertumbuhan ekonomi daerah ini, berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir 2008 mencapai 7,14 %. “Hal ini tentu menjadi hal yang luar biasa, bahkan pada 2008 lalu kita pernah mencapai pertumbuhan 8,48%,” kata Syahrul, didampingi Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel HA Muallim, di kantor Gubernur, Rabu (11/3) kemarin.

Selain itu ditinjau dari sektor pertanian Sulsel bahkan mencapai overstock beras sampai 2 juta ton yang meliputi luas lahan sekitar 800 ribu hektar, overstock jagung 1,5 juta ton dengan luas lahan 400 ribu hektar, dan 3 juta ekor sapi.

Syahrul mengaku telah meminta kepada para bupati untuk turun langsung mengecek komoditas di daerahnya seperti udang, bandeng, agar produksinya dapat ditingkatkan secara bertahap. “Jika pangan kita bagus, maka tentu gizi yang dinikmati masyarakat juga akan baik, sehingga akhirnya akan menghasilkan kualitas SDM yang baik pula,” kata Syahrul, saat bertemu dengan para pemimpin redaksi media cetak dan elektronik daerah ini, di ruang kerjanya, kemarin.

Dia berharap Sulsel menjadi percontohan provinsi lain, bukan hanya di sektor pertanian tetapi juga untuk pendidikan dan kesehatan. Program pendidikan dan kesehatan gratis yang telah berjalan sekitar enam bulan ini, juga mulai memasyarakat. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, H Patabai Pabokori, Pemprov Sulsel terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kedua layanan ini. Hampir di setiap kabupaten kota telah dilakukan sosialisasi layanan pendidikan gratis.

Disebutkan anggaran untuk pendidikan gratis yang mencapai Rp2,5 triliun dan kesehatan gratis sebesar Rp2,3 triliun. “Kita ini bekerja benar-benar demi rakyat, tanpa kepentingan tertentu,” katanya.
Dinas pendidikan dan Dinas Kesehatan Sulsel akan terus didorong untuk memaksimalkan kedua layanan ini. Belum lagi pemberian beasiswa kepada sekitar 1.000 orang, diantaranya 100 dokter. “Mari kita perbaiki republik ini dari Sulsel, kita harus menjadi daerah percontohan,” kata Syahrul.

Gubernur Syahrul yang juga didampingi Asisten II Pemprov H Yushar Huduri, Dinas Pendidikan, dan Kepala Dinas Kesehatan mengaku ada optimisme di tahun 2009 untuk menjadi lebih baik lagi. “Apalagi sampai sekarang di Sulsel belum ada kita dengar perusahaan melakukan PHK gara-gara krisis,” kata Syahrul.

Hal ini, bisa terjadi menurut Syahrul, karena memang ada komitmen yang kuat antara pemerintah kabupaten-kota, dalam hal ini bupati dan walikota.”Saya berterimakasih kepada bupati,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga mengungkapkan kepada seluruh SKPD se-Sulsel agar tender proyek pembangunan sudah rampung Maret-April 2009 ini. “Jangan ada lagi yang belum selesai tender di atas bulan Agustus,” tegasnya.

Hal ini dilakukan agar uang dan ekonomi pada masyarakat dapat berputar dengan cepat. Pihak perbankan juga diminta untuk segera mencairkan pendanaannya. Khusus untuk politik, Syahrul menegaskan para elit boleh bersaing tetapi jangan sampai merugikan masyarakat.(upeks)




Padang Lamun


Perhatian terhadap ekosistem padang lamun (seagrass beds) masih sangat kurang dibandingkan terhadap ekosistem bakau (mangrove) dan terumbu karang (coral reefs). Padahal, lestarinya kawasan pesisir pantai bergantung pada pengelolaan yang sinergis dari ketiganya. Terlebih, padang lamun merupakan produsen primer organik tertinggi dibanding ekosistem laut dangkal lainnya.

Sebagai produsen primer, lamun sangat tinggi keanekaan biotanya. Padang lamun menjadi tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuhan laut (algae). Lamun juga menjadi padang penggembalaan dan makanan dari berbagai jenis ikan herbivora dan ikan karang.

Keberadaan lamun sangat bermanfaat bagi ikan, udang, serta kepiting untuk bertelur dan tempat bermain ketika masih berbentuk benih. Lamun merupakan sumber makanan bagi banyak hewan laut seperti duyung, penyu, ikan, udang, dan bulu babi. Banyak jenis tumbuhan dan hewan menggunakan lamun sebagai tempat tinggal dan berlindung dari hewan-hewan pemangsa.

Masyarakat ternyata belum banyak yang mengenal lamun (seagrass). Akibatnya, tak banyak yang bisa dilakukan ketika ekosistem lamun mengalami kerusakan. Padahal, tumbuhan yang biasa hidup di daerah pesisir laut dangkal dan berkadar garam tinggi ini memiliki manfaat penting bagi ekosistem laut.

Padang lamun merupakan bentangan tetumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae. Lamun adalah tumbuhan air yang berbunga (spermatophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, dan berakar. Hidup terbentang pada kedalaman 0,5-20 meter setelah bakau, baru kemudian terumbu karang.

Sangat disayangkan, perhatian terhadap ekosistem padang lamun masih sangat minim. Hingga kini belum ada penetapan ukuran baku ambang kerusakan ekosistem lamun, padahal untuk bakau dan terumbu karang sudah ada. Peneliti yang menaruh perhatian pada ekosistem lamun juga masih dapat dihitung dengan jari.

Dengan belum adanya penetapan ukuran baku tersebut dikhawatirkan kerusakan ekosistem lamun terlupakan, tidak terkontrol, lalu tiba-tiba kondisinya sudah seburuk terumbu karang dan bakau. Bentangan padang lamun di Indonesia diestimasikan sekitar 3 juta hektar, mungkin sekitar 10 persennya sudah rusak.

Seperti terumbu karang dan bakau, rusaknya ekosistem lamun umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia. Misalnya, reklamasi pantai, pembangunan real estate pinggir laut, pengurukan, buangan limbah industri, limbah rumah tangga atau sampah organik, serta limbah minyak.

Khususnya di Teluk Banten, penurunan luasan areal padang lamun lebih dipicu oleh adanya perubahan kebijakan tata guna lahan dari areal pertanian dan perikanan menjadi kawasan industri. Perubahan kebijakan ini diikuti oleh kegiatan reklamasi dan pengurugan daerah pantai termasuk areal padang lamun yang dimulai pada tahun 1990 untuk kawasan industri, jalan dan dermaga kapal. Selain itu, faktor sedimentasi akibat penggalian tanah dan batu di gunung dan bukit bagian barat teluk juga memiliki pengaruh yang besar (Kiswara, 1992). Hasil sementara pemetaan padang lamun Teluk Banten menunjukkan areal padang lamun yang telah hilang adalah seluas sekitar 106 ha, atau 30 % dari luas total padang lamun di Teluk Banten (Kiswara et al,.in prep.).

Mengingat semakin berkurangnya areal luasan lamun, khususnya di Teluk Banten, penulis memandang perlu agar adanya upaya penyelamatan padang lamun dan sumberdaya yang dikandungnya sesegera mungkin. Upaya ini perlu didukung oleh semua pihak dan merupakan hal yang mendesak untuk segera direalisasikan. Tindakan awal penyelamatan tersebut adalah dengan mengkaji ulang rencana kegiatan reklamasi di Teluk Banten, sosialisasi untuk membatasi dan mengurangi kegiatan penangkapan sumberdaya di padang lamun yang cenderung merusak, mengkaji dan melibatkan nelayan serta penduduk setempat dalam usaha kegiatan perlindungan dan perbaikan padang lamun yang mengalami kerusakan dengan kegiatan penanaman lamun.





















Belasan Ikan Duyung Ditemukan di Padang Lamun Kalteng Cetak
Berita - Kabar Daerah
Minggu, 11 Januari 2009 04:25

Belasan ikan duyung ( Dugong dugon) ditemukan hidup di perairan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mamalia laut yang langka ini hidup di perairan Teluk Kumai, hidup di daerah perairan antara Tanjung Puting dan Teluk Bogam karena terdapat padang lamun yang menjadi habitat satwa dilindungi tersebut.

Ikan duyung (dugong dugon) sedang menyantap rumput laut. (TPGImages)

"Diperkirakan populasi duyung di perairan tersebut sekitar 16 ekor. Duyung termasuk hewan dilindungi karena di Indonesia hanya ada di beberapa kawasan di Sumatera," kata Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rosette Elbaar, di Palangkaraya, Sabtu (11/10).

Dugong bernapas dengan paru-paru, panjang tubuhnya bisa mencapai 3 meter dengan berat 4 kuintal. Ukuran tubuh dewasa dicapai setelah usia sembilan tahun dan bisa bertahan hidup hingga umur 20 tahun.

Dugong menyukai perairan dangkal berkedalaman 5-20 meter dan ditumbuhi lamun yang merupakan makanan pokok mamalia tersebut.

Rosette menuturkan, penemuan padang lamun yang menjadi habitat duyung di perairan Kotawaringin Barat tersebut diawali dari serangkaian penelitian dan penyelaman oleh Tim Konsorsium Mitra Bahari sejak tahun 2003 hingga 2007.

Anggota tim tersebut berasal dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kalteng, Universitas Palangkaraya, serta World Wildlife Foundation (WWF).

Di perairan Kotawaringin Barat, lamun tersebar di pantai desa Kubu, Tanjung Keluang, Tanjung Pandan, Sungai Bakau, Teluk Bogam, Tanjung Penghujan, gosong Pinggir, gosong Berendam, gosong Sepagar, dan gosong Senggora.

Apabila tidak dijaga, duyung yang ada di kawasan padang lamun tersebut bisa punah. "Predator alami duyung di sana tidak ada. Tapi, kepunahan duyung bisa terjadi bila nelayan menangkapnya. Tahun 2007 sempat ada satu ekor yang tersangkut jaring nelayan dan kemudian mati," kata Rosette.


Sumber : Kompas Cetak

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/13/15073922/belasan.ikan.duyung.ditemukan.di.padang.lamun.kalteng












Ekosistem lamun ('''Seagrass ecosystem'''), Lamun (seagrass) adalah satu satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti hal¬nya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan tumbuh tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan meng¬hasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat zat hara. Sebagai sumberdaya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk keranjang anyaman, dibakar untuk garam, soda atau penghangat, bahan isian kasur, atap, bahan kemasan, pupuk, isolasi suara dan suhu. Pada jaman modern ini, lamun dimanfaatkan antara lain sebagai penyaring limbah, stabilisator pantai, pupuk, makanan dan obat obatan.

Padang lamun berlaku sebagai daerah asuhan, pelindung dan tempat makan ikan, Avertebrata, dugong dan sebangsanya. Padang lamun juga berinteraksi dengan terumbu karang dan mangrove. Ekosistem lamun ini terdapat di banyak perairan pantai di negara kita. Di Kepulauan Seribu, misalnya, terdapat ekosistem ini yang berdampingan dengan mangrove dan terumbu karang. Ekosistem ini dikaitkan dengan kehadiran dugong karena tumbuh tumbuhan lamun menjadi makanannya.




Minggu, 03 Mei 2009

TERUMBU KARANG

Terumbu Karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang merupakan kumpulan fauna laut yang berkumpul menjadi satu membentuk terumbu. Struktur tubuh karang banyak terdiri atas kalsium dan karbon. Hewan ini hidup dengan memakan berbagai mikro organisme yang hidup melayang di kolom perairan laut.

Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia (Walters, 1994 dalam Suharsono, 1998).

Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang Dunia (Cesar 1997) dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Menurut Cesar (1997) estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah pemanfaatan sumber daya ikan, batu karang, pariwisata, penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya. Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah seperti fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.




Jenis-jenis terumbu karang

1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)

Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)

Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.5­2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).

3. Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau­pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. Menurut Darwin, terumbu karang cincin merupakan proses lanjutan dari terumbu karang penghalang, dengan kedalaman rata-rata 45 meter. Contoh: Taka Bone Rate (Sulawesi), Maratua (Kalimantan Selatan), Pulau Dana (NTT), Mapia (Papua)

4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)

Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)






H U T AN M A N G R O V E




Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.


Beberapa jenis mangrove yang terkenal:
- Bakau (Rhizopora spp.)
- Api-api (Avicennia spp.)
- Pedada (Sonneratia spp.)
- Tanjang (Bruguiera spp.)


Berbagai laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove ditemukan hampir disetiap propinsi di Indonesia. Walaupun di daerah pantai Propinsi D.I. Yogyakarta dilaporkan beberapa jenis vegetasi mangrove tumbuh, namun mungkin karena luasan yang kecil atau karena tidak membentuk tegakan yang kompak sehingga tidak dikategorikan sebagai hutan, maka luasan hutan mangrove di Propinsi D.I. Yogyakarta tersebut sampai saat ini belum dilaporkan. Meskipun secara umum lokasi mangrove diketahui, namun terdapat variasi yang nyata dari luas total hutan mangrove Indonesia, yakni berkisar antara 2,5 juta – 4,25 juta ha. Beranjak dari perkiraan luas hutan mangrove yang berstatus kawasan hutan di Indonesia pada tahun 1993 seluas 3.765.250 ha, total luas areal berhutan mangrove berkurang sekitar 1,3 % dalam kurun waktu 6 tahun (1993 sampai 1999). Angka penurunan luas hutan mangrove dalam kurun waktu antara tahun 1993 – 1999 ini jauh lebih kecil dibandingkan dalam kurun waktu 1982 – 1983. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Kusmana (1995) diketahui bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1982 – 1993 (11 tahun), luas hutan mangrove turun sebesar 11,3 % (4,25 juta ha pada tahun 1982 menjadi 3,7 juta ha pada tahun 1993) atau 1 % per tahun.

Ditjen RLPS, Departemen Kehutanan pada tahun 1999/2000 menginformasikan bahwa potensi mangrove di Indonesia adalah 9,2 juta ha, dan 5,3 juta ha di antaranya atau sekitar 57,6 % dari luas hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak, dimana sebagian besar, yakni sekitar 69,8 % atau 3,7 juta ha terdapat di luar kawasan hutan dan sisanya sekitar 30,2 % atau 1,6 juta ha terdapat di dalam kawasan hutan. Sedangkan rehabilitasi hutan mangrove melalui pembangunan plot-plot percontohan penanaman mangrove yang sudah dilaksanakan oleh Ditjen RLPS sampai tahun 2001 hanya sekitar 21.130 ha.





UPAYA PELESTARIAN MANGROVE

Bentuk tekanan terhadap kawasan mangrove yang paling besar adalah pengalih-fungsian (konversi) lahan mangrove menjadi tambak udang/ikan, sekaligus pemanfaatan kayunya untuk diperdagangkan. Selain itu, juga tumbuhnya berbagai konflik akibat berbagai kepentingan antar lintas instansi sektoral maupun antar lintas wilayah administratif.

Secara ideal, pemanfaatan kawasan mangrove harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan terhadap keberadaan mangrove. Selain itu, yang menjadi pertimbangan paling mendasar adalah pengembangan kegiatan yang menguntungkan bagi masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi mangrove secara ekologis (fisik-kimia dan biologis). Perlu juga mengembangkan matapencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar mangrove dengan mengandalkan bahan baku non-kayu dan diversifikasi bahan baku industri kehutanan dan arang seperti yang terjadi di Nipah Panjang, Batu Ampar, Pontianak. Masyarakat merubah pola konsumsi bahan bakar dari minyak tanah dan arang bakau menjadi arang leban dan tempurung kelapa dan menggunakan tungku hemat energi atau anglo.